Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bab 3 “Apa sih di dunia ini yang tidak bisa kubeli dengan uang?” (Hidup Sekamar Dengannya)

BAB 3 Apa sih di dunia ini yang tidak bisa kubeli dengan uang? (Hidup Sekamar Dengannya) - Sebuah kisah seorang gadis sultan yang sangat memainkan emosional pembacanya, Manda, entah menjadi seorang gadis yang beruntung atau tidak, dengan situasi yang sangat di luar logika dalam kehidupannya, Simak ceritanya dibawah ini 

Kaki Amanda tanpa permisi dengan lancang ia taruh di atas lutut sang karyawan. Amanda ingin mempertegas statusnya, dia karyawan VVIP dari kalangan orang kaya dan yang ada di hadapannya ini adalah gadis pelayan yang dari kalangan orang biasa.

Harga diri gadis ini seakan dicabik-cabik, dia bersujud membersihkan kaki dan sepatu heels yang Amanda kenakan.

Pokoknya harus bersih daripada suruh ganti rugi, kan sepatunya mahal. Setelah bersih Amanda bangun dan memilih-milih barang, dia lemparkan sembarang dan langsung ditangkap oleh karyawan baru yang sekarang ia tugaskan untuk melayaninya.

“Apa sih di dunia ini yang tidak bisa kubeli dengan uang?” kata Amanda, gadis berusia 25 tahun anak crazy rich jakarta yang memiliki stasiun televisi lokal.

Dengan percaya dirinya ia bilang hal ini pada sahabatnya yang sesama orang kaya juga. Mereka duduk bersebelahan menunggu barangnya yang tengah dibungkus rapi.

“Hoaaahh! Gue suka gaya loe!” Mereka berdua tersenyum senang setelah membeli harga diri seorang pelayan dengan uang. Ya, pelayan tadi yang habis bersih Amanda marahi dan Amanda hina.

Kegiatan hari ini tidak selamanya mulus. Amanda kaget saat mendapat pesan dari asistennya yang menyuruh dia untuk segera kembali ke kantor.

“Gue balik kantor dulu, ada kode darurat.” Siang itu, Amanda disuruh datang ke kantor karena sang ayah sedang marah besar dan mencari Amanda sebagai penanggung jawab sebuah acara.

Ia menurut tanpa prasangka apa pun, walau sebenarnya hari itu ia sedang ingin bermalas-malasan.

Anak dan ayah pun duduk berhadapan di sofa empuk model terbaru. Ruangan bos besar tentunya sangat luas dengan latar bertuliskan MND TV yang merupakan singkatan dari Media Nusantara Dinata TV.

Media televisi ini telah memiliki banyak program acara yang terkenal edukatif, informatif, dan menghibur. Gustav, ayah Amanda, telah selesai membaca sebuah berkas dan kemudian meletakkannya di atas meja.

Berkas tersebut ditutup menggunakan map berwarna biru. “Kemana saja kamu? Kok acara yang kamu pegang malah berantakan?”

Pria paruh baya ini menghela napas panjang. “Ah itu karena karyawannya pada telat, Pi! Maaf ya!”

Bukan komplain yang ingin dia dengar melainkan kabar baik yang sedang ia tunggu. Pria yang karismatik itu menyilangkan tangan di depan dada sembari menatap putrinya.

Dengan kalem, ia berucap, “Papi akan mengabulkan permintaanmu buat mengundang Cha Eun Woo dan membuat pesta semeriah mungkin. Kalau perlu, kita siarkan pula secara langsung di stasiun televisi Papi.”

Dalam rangka ulang tahun Amanda, ia merencanakan sebuah acara sesuai selera sang putri. Amanda kala itu minta pesta ulang tahun paling meriah dan mendatangkan banyak artis,

terutama artis Korea kesukaannya, yakni Cha Eun Woo. Ia pikir, walau hanya acara ulang tahun, tapi bila bisa viral dan mendatangkan keuntungan serta prestise bagi perusahaan, mengapa tidak?

“Yeayyy … akhirnya!” Amanda jelas senang bukan main.

Ia sudah minta dari jauh-jauh hari, tapi sang ayah sepertinya tak setuju. Ia sempat berpikir barangkali permintaannya mendatangkan artis K-pop papan atas itu terlalu berat untuk dipenuhi sang ayah.

Permintaan itu telah ia sampaikan satu bulan yang lalu. Selama itu pula ia menunggu tanpa kejelasan sehingga sempat pupus harapan.

Ia bahkan sempat menangis atau mengancam akan mogok makan demi memaksa sang ayah.

“Makasih banget! Papi emang ayah terbaik!” seru Amanda.

“Tapi dengan satu syarat!” ucap Gustav dengan mimik serius.

Baru saja hati Amanda melambung tinggi ke awang-awang, langsung jatuh ke daratan. Ternyata kali ini ayahnya mempunyai syarat.

Apakah hanya syarat tanpa ketentuan? “Kenapa pakai syarat segala?” tanya Amanda kecewa. Ia sampai menghela napas dan duduk menyilangkan kaki sambil manyun. Gustav telah memikirkan matang-matang rencana besarnya ini dari jauh hari.

 Ia bahkan berdiskusi dengan salah satu teman dekatnya. Rencana ini tidak boleh gagal.

“Syaratnya gampang, Manda. Kamu harus ikut reality show terbaru Papi.”

Gustav tengah menyiapkan acara terbaru yang akan ditayangkan sebentar lagi. Ia sengaja menyisakan satu slot pasangan pemain, khusus untuk anaknya dan anak sahabatnya. Amanda mengerjap keheranan. “Maksud Papi, aku jadi bagian tim untuk mengurus acara itu?”

Biasanya, Amanda ditugaskan jadi penanggung jawab saja. Ia hanya tahu beres. Semua kerumitan pekerjaan diserahkan kepada bawahan.

Toh mereka ada dan digaji untuk membantunya, bukan? Ia tinggal tanda tangan, memeriksa sejenak, lalu ACC atau tidak tergantung suasana hatinya.

Gustav tersenyum lebar penuh arti. “Bukan.” Melihat ekspresi Gustav yang tidak biasa itu, Amanda yakin tugasnya kali ini tidak akan mudah.

“Lalu apa tugasku, Yah?” Gadis ini mengerutkan dahi.

Masa iya ia harus menjadi kacung dalam acara tersebut?

“Jadi pemainnya!” ucap Gustav dengan enteng. Senyum kemenangan semakin lebar tersungging di bibirnya.

Tentu saja Amanda kaget. Ia sudah biasa berada di balik layar dan menikmati uang hasil acaranya, bukan jadi pemain di layar kaca.

Pasti ayahnya diam diam mempunyai rencana lain.

"Hah? Papi itu acara reality show, lho,” protes Amanda.

"Iya. Kamu keberatan?

Kalau kamu tidak setuju, kita bikin acara pesta ulang tahun sederhana aja di rumah."

Kali ini Gustav mengancam.

"Nggak mau, iiiiih! Temen aku ngejek, masa iya anak yang punya MND TV ulang tahunnya nggak disiarkan? Kan aku malu, Pi. Gengsi tau.

Mana temen temen request ada babang Cha Eun Woo juga.

Kapan lagi ada artis Korea di pesta ulang tahunan!" Amanda protes panjang lebar. Ia model orang yang tidak suka diolok-olok. Ia ingin menjadi orang yang paling beda, tak mau pesta ecek-ecek dan pasaran karena teman-temannya juga sekelas sultan.

"Kalau keinginan kamu setinggi itu, apa susahnya memenuhi keinginan ayah yang mudah itu? Kamu cuma ikut reality show aja, " ujar Gustav enteng dengan nada yang meremehkan Amanda.

"Oh my God! Aku nggak suka ada di layar kaca. Mana reality show gitu kan keliatan muka bantal, muka buluk, muka belum mandi.

" Amanda selalu on fire dan tak pernah memperlihatkan muka bantalnya di layar kaca. "Halaaah, banyak alasan! Kamu tinggal memilih, ikut reality show atau nggak usah rayain ulang tahun."

Gustav memalingkan wajah agar Amanda semakin tertekan. "Papi nyebelin, ih!” Amanda merengut maksimal.

“Terserah, keputusan ada di tangan kamu, Manda, ” sahut Gustav tegas, Nyali Amanda menciut juga melihat ketegasan sang ayah. Apa boleh buat, ia ingin pesta ulang tahun ke-25 nanti berlangsung meriah.

Gadis cantik itu menghela napas dan berpikir sejenak. Terus terang, ia tidak kehilangan muka di depan teman-teman hedonnya.

“Tapi masa Manda jadi pemain, sih, Pi?” Rasa ragu kembali mengganggu Amanda. "Kamu sekali-kali nurut sama Papi, deh. Belum ada lho anak pemilik stasiun televisi main di acara miliknya sendiri.

Keren kamu kalau ikut acara ayah. Dijamin bakal dapat banyak pujian." Gustav mengeluarkan jurus andalan. Amanda pasti akan merasa terbang ke awang-awang dan merasa menjadi nomor satu. Ia tahu benar, anak itu haus pujian.

"Masa, ih?"

Amanda pun menjadi antusias. Terlihat nomor satu di hadapan orang banyak memang tujuan hidupnya.

Amanda tergabung dalam geng anak-anak sultan yang berteman dengan artis papan atas. Tentu ia ingin mencari muka agar semakin disanjung.

"Iya lah!

Bayangkan betapa cantiknya anak Gustav Dermawan main di reality show program terbaru MND TV." Gustav sampai bertepuk tangan antusias. Jurus itu ternyata berhasil.

"Ya udah, asal pestaku dibuat meriah dan ada artis Koreanya." Amanda akhirnya menyerah, mau ikut acara reality show tersebut.

"Papi undang juga semua artis top Indonesia bila perlu." Gustav tentu mempunyai banyak nomor kontak manager artis.

 "Oke, Papi. Aku mau ikut."

Mereka pun saling berjabatan tangan. "Silahkan tanda tangan." Pria paruh baya itu memberikan map berwarna biru yang sudah ia baca tadi.

"Eh, kontraknya udah ada?" tanya Amanda heran. Itu berarti rencana ini sudah disiapkan jauh-jauh hari. "Ini yang Papi baca tadi."

"Mana pulpen?" tanya Amanda, berlagak sombong. Gayanya seperti artis yang akan menandatangani kertas dari fans.

"Nggak mau baca dulu?" tanya Gustav sambil mengangkat satu alisnya. Hatinya girang karena akhirnya sang anak jatuh juga pada perangkapnya.

"Nggak usah, biar cepet liat Cha Eun Woo!"

Tanpa banyak berpikir dan membaca kontrak sama sekali, Amanda pun membubuhkan tanda tangan di atas materai 6000, lalu menuliskan nama Amanda Manuela Dermawan di bawahnya.

Setelah menandatangani dokumen tersebut, Amanda meminum segelas orange jus hingga tandas. Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun ia merasa sangat lemah dan mengantuk.

Beberapa menit kemudian, gadis ayu itu pun kehilangan kesadaran. Mengingat kejadian kemarin itu, Amanda menggeram. Ia kini harus menghadapi kenyataan bahwa ia telah berada dalam acara My Roommate.

Berarti kemarin ia tertidur oleh obat yang ada dalam minuman dan sekarang sudah berada di tempat acara ini. Hebatnya lagi, ia tak tahu lokasi tempat syuting ini berada di daerah mana. Acara ini sungguh di luar bayangannya. Seketika ia ingat pria yang ia pegang-pegang di kamar tadi.

"Kalau nama acaranya My Roommate, berarti partner satu kamar, satu rumahku adalah pria tadi?" Amanda mendadak pusing. “Papiiiiiii!”

Nahh, Bab 3 telah usai, jangan sampai ketinggalan untuk membaca bab berikutnya dengan meng-klik tombol bab 4 dibawah ini. Juga jangan lupa saran dan komentarnya ya, supaya kami lebih rajin lagi menulis novel terbaik untuk kamu semua teman-temanku :).











Post a Comment for "Bab 3 “Apa sih di dunia ini yang tidak bisa kubeli dengan uang?” (Hidup Sekamar Dengannya)"